(SUPPLY CHAIN
MANAGEMENT BERBASIS LAYANAN)
DESAIN DAN IMPLEMENTASI
PROTOTIPE
SISTEM
Supply chain management (SCM)
adalah sebuah konsep pengaturan aliran proses perdagangan yang
menghubungkan antara produsen, supplier, dan konsumen secara langsung. Dengan
berevolusinya konsep perangkat lunak dan sistem informasi menuju era berbasis
layanan, pengembangan SCM berbasis layanan menjadi sangat relevan. Studi kasus
kebutuhan akan SCM berbasis layanan pada pengelola pusat perbelanjaan di
Jakarta menjadi fokus pembahasan. Pada makalah ini dibahas sebuah model
pengembangan sistem SCM berbasis layanan yang menghubungkan tiga stakeholder
yang berperan dalam proses perdagangan pada pusat perbelanjaan modern.
Supply
chain tidak dapat dilepaskan
dari konsep SCM. Secara definisi yang dimaksud dengan supply chain
merupakan serangkaian proses pengambilan keputusan dan tindakan serta
aliran/alur bahan baku, informasi, dan uang yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan yang berlangsung pada suatu tahap yang sama atau berbeda. Untuk
mempermudah pemahaman, berikut ini adalah gambaran umum mengenai supply
chain.
Gambar 1 mengilustrasikan bagaimana
supply chain suatu perusahaan yang biasanya memiliki lebih dari satu supplier
dan konsumen. Ilustrasi tersebut menggambarkan proses bisnis dari hulu hingga
hilir, mulai dari supplier hingga distribusi kepada pelanggan. Rantai yang
berada di antara keduanya tidak terbatas hanya pada pabrikan, distributor, dan
retailer saja, tetapi dapat ditambah dengan transporter, warehouse, marketing,
finance, dan costumer service, tergantung pada proses bisnis. Jika berbagai
rantai dan entitas yang tergabung dalam supply chain tidak dikelola dengan
baik, hal itu dapat menyebabkan inefisiensi dan berpotensi merugikan. Pihak
yang sering dirugikan adalah para produsen berskala kecil yang memiliki posisi
tawar yang rendah.
SCM merupakan rangkaian
kegiatan perencanaan, koordinasi, dan pengendalian seluruh proses bisnis dan
aktivitas dalam supply chain untuk menciptakan consumer value terbaik dengan
biaya yang efisien namun tetap memenuhi seluruh kebutuhan stakeholder lain
dalam supply chain. Value atau yang lebih dikenal dengan added value adalah
sesuatu yang ingin diperoleh bagi para konsumen dan tercermin dari pendapatan
yang dihasilkan oleh perusahaan. Untuk menghasilkan value yang optimal, ada
tiga keputusan yang harus ditetapkan oleh para eksekutif: bagaimana struktur
jaringan; proses bisnis; dan komponen manajemen dari supply chain seperti
digambarkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Tiga keputusan penting dalam menerapkan
SCM.
SCM
sangat bergantung pada tujuan awal dari supply chain dan pencapaiannya harus
dapat diukur melalui Key Performance Indicators (KPI). Akan tetapi, tidak mudah
dalam menentukan tujuan karena supply chain dikelola oleh suatu entitas
yang dominan atau melalui kerjasama antar entitas dalam supply chain
yang membutuhkan kooperasi dan koordinasi yang baik. Setelah tujuan dan
pengukuran kinerjanya sudah terdefinisi, ada beberapa keputusan yang harus
ditetapkan dalam menganalisa dan merancang supply chain. Keputusan yang
pertama adalah menentukan siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam supply
chain untuk menentukan entitas mana yang menjadi kunci penentu kesuksesan
organisasi. Keputusan berikutnya yang perlu ditetapkan adalah proses-proses
mana saja yang harus dihubungkan pada setiap entitas.
kunci
dalam supply chain. Hal ini penting untuk meningkatkan efektifitas dan
efisiensi proses bisnis yang ada. Keputusan yang terakhir adalah menentukan
tingkat integrasi dan manajemen dalam setiap proses yang saling terhubung. Pada
bagian ini harus didefinisikan dengan jelas bagaimana peranan komponen
manajemen sehingga dapat selaras dengan seluruh proses bisnis yang ada dalam supply
chain. SCM banyak diimplementasikan oleh perusahaan berskala besar yang
memiliki volume aliran bahan baku, informasi, dan uang dalam jumlah besar.
Faktor yang sangat relevan mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun
sistem dan melakukan maintainance yang sangat besar. Lantas, apakah para
pengusaha bisnis dalam skala kecil tidak dapat menikmati akselerasi bisnis
dengan SCM yang ternyata membutuhkan investasi IT yang tidak kecil? Tren
perangkat lunak yang mulai bergeser ke arah perangkat lunak berbasis layanan
tentu saja mempengaruhi pola pengembangan SCM.
Produk SCM berbasis layanan yang dibangun oleh sebuah penyedia
jasa utama yang men-support aktivitas tenant-tenant merupakan
sebuah produk layanan jasa yang akan membantu peningkatan aktivitas bisnis
pelaku bisnis berskala kecil. Pada makalah ini akan dibahas bagaimana desain
sebuah sistem SCM berbasis layanan yang dirancang untuk membantu aktivitas
perdagangan antara distributor besar (wholeseller) dengan para penjual
langsung (retailer) dalam sebuah komunitas pusat perdagangan modern.
Prototipe pengembangan sistem ini akan mengambil lokasi pada sebuah pusat
perdagangan besar di kota jakarta. Proses
identifikasi kebutuhan sistem untuk membangun SCM berbasis layanan sebetulnya
merupakan proses yang sulit. Dalam kondisi nyata, users dari sistem ini
tidak terbatas kepada satu pedagang (distributor atau retailer)
saja. Apabila pengembangan sistem ini merujuk kepada proses waterfall,
maka tahapan identifikasi kebutuhan sistem akan memakan waktu yang sangat lama
mengingat banyaknya tenant yang menjadi calon pengguna dari sistem.
Proses prototyping memotong waktu yang signifikan pada tahapan
ini. Karakteristik metodologi prototyping yang tidak meng-capture informasi
awal secara detail akan memudahkan proses identifikasi awal dari kebutuhan
para pengguna. Identifikasi kebutuhan secara umum dilakukan pada tahapan awal
untuk kemudian direvisi sesuai dengan feedback dari users setelah
sistem SCM berbasis layanan go live.
Proses
identifikasi kebutuhan sistem untuk membangun SCM berbasis layanan sebetulnya
merupakan proses yang sulit. Dalam kondisi nyata, users dari sistem ini
tidak terbatas kepada satu pedagang (distributor atau retailer)
saja. Apabila pengembangan sistem ini merujuk kepada proses waterfall,
maka tahapan identifikasi kebutuhan sistem akan memakan waktu yang sangat lama
mengingat banyaknya tenant yang menjadi calon pengguna dari sistem.
Proses prototyping memotong waktu yang signifikan pada tahapan
ini. Karakteristik metodologi prototyping yang tidak meng-capture informasi
awal secara detail akan memudahkan proses identifikasi awal dari kebutuhan
para pengguna. Identifikasi kebutuhan secara umum dilakukan pada tahapan awal
untuk kemudian direvisi sesuai dengan feedback dari users setelah
sistem SCM berbasis layanan go live.
Identifikasi
kebutuhan dari sistem SCM berbasis layanan dibagi menjadi dua yaitu kebutuhan
fungsional dan kebutuhan non-fungsional. Tidak ada prioritas diantara kedua aspek
ini. Keduanya memiliki peranan yang sangat penting dalam keberhasilan
pengembangan sistem. Secara umum kebutuhan fungsional dari sistem ini adalah
sebagai berikut:
1.Fungsi
mengelola data customer (distributor dan retailer) oleh
pengelola mall sebagai penyedia layanan.
2.Fungsi
mengelola data barang yang dilakukan oleh customer (distributor
dan retailer).
3.Fungsi
untuk mengotomasi proses transaksi keuangan baik itu berupa pembayaran tagihan
maupun aktivitas cash flow keuangan.
4.Fungsi
otomasi capturing dan input data menggunakan third party
device.
5.Fungsi
monitoring proses transaksi yang dilakukan oleh pengelola.
6.Fungsi
summarizing dalam bentuk laporan penjualan
7.Fungsi
analisa statistik dalam bentuk diagram dan grafik.
Identifikasi kebutuhan fungsional dapat beubah
sesuai dengan proses iterasi dalam metodologi prototyping. Kebutuhan
utama yang berhasil diidentifikasi dapat bertambah dan juga berkurang sesuai
dengan feedback dari users dalam proses evaluasi prototipe sistem.
Sementara itu, daftar kebutuhan non fungsional dari sistem SCM berbasis layanan
dapat dilihat dalam Tabel 1.
TABEL I
KEBUTUHAN
NON FUNGSIONAL SISTEM SCM BERBASIS LAYANAN
|
|
Kebutuhan
|
|
Penjelasan
|
|
1.
|
Performance
|
a)
|
Mengefisienkan waktu
proses pengolahan data sistem, mulai dari penginputan
|
|
|
|
|
hingga pelaporan.
|
|
|
|
b)
|
Membantu peningkatan
pemantauan perkembangan.
|
|
|
|
c)
|
Mengurangi tingkat kesalahan dan
ketidaklengkapan data
|
|
2.
|
Data Management
|
a)
|
Melakukan penyimpanan data berupa
informasi data barang, data konsumen (retail),
|
|
|
|
|
karyawan, fasilitas
dan data transaksi.
|
b)
Mencegah
terjadinya penyimpanan data yang redundant.
c)
Mencegah
hilangnya data.
d) Sistem
pusat dan cabang terintegrasi sehingga memudahkan untuk mendapatkan data yang
paling aktual.
e)
Format
penyajian laporan dibuat sehingga lebih mudah dipahami.
f)
Meminimalisasi terjadinya kesalahan
penginputan data.
g)
Data
terdokumentasi dan terstruktur.
|
3.
|
Economic
|
a)
|
Mengurangi biaya operasional untuk
transfer informasi atau dokumen ke pusat yang
|
|
|
|
|
selama ini dilakukan
secara manual.
|
|
|
|
b)
|
Memperlancar aliran
informasi antara bagian administrasi ke managerial
|
|
4.
|
Control
|
a)
|
Meningkatkan keamanan terhadap
pelaksanaan proses penyimpanan data.
|
|
|
|
b)
|
Membatasi akses
penggunaan terhadap sistem dengan cara menerapkan privilege.
|
|
|
|
c)
|
Adanya operator data entry yang
bertangungjawab terhadap pelaksanan pemasukan
|
|
|
|
|
data dan aministrator yang bertanggung
jawab atas semua jalannya aktivitas pada
|
|
|
|
|
aplikasi
|
|
|
|
d)
|
Mencegah akses penuh dari
pengguna-pengguna yang tidak berwenang.
|
|
5.
|
Eficiency
|
a)
|
Menggunakan sistem penyimpanan data
yang terpusat untuk memudahkan proses
|
|
|
|
|
pendistribusian
barang.
|
|
|
|
b)
|
Mengefisienkan waktu untuk pelaksanaan
proses validasi penginputan data
|
|
|
|
c)
|
Meminimalisasi biaya
dan sumber daya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proses
|
|
|
|
|
pelaporan.
|
|
6.
|
Service
|
a)
|
Menghasilkan informasi yang akurat
untuk bahan pertimbangan dan evaluasi.
|
|
|
|
b)
|
Memberi kemudahan
dalam penggunaan operasional sistem.
|
Gambar 3. Use case diagram dari sistem SCM berbasis layanan versi 2.0
Gambar 4. Desain
topologi jaringan dari sistem SCM berbasis layanan.
Gambar 4 memperlihatkan bagaimana setiap users berinteraksi dengan cloud
dalam sebuah topologi jaringan. Satu diagram lagi yang perlu untuk dimuat untuk
lebih memperjelas bagaimana perbedaan antara sistem SCM yang dibangun secara dedicated
untuk satu entitas organisasi dengan sistem SCM berbasis layanan yang dibangun
untuk melayani banyak users. Diagram terakhir yang digunakan dalam
proses desain untuk menggambarkan keunikan dari sistem SCM berbasis layanan ini
adalah database design. Konsep utama dari database design yang
digunakan adalah konsep shared database dengan multi-tenant.
Referensi
Simchi-Levi, E., dan
Kaminsky, P. (2003). Designing and
Managing The Supply Chain: Concepts,
Strategies, and Case.
Van der vorst, J.
(2004). Supply chain management: Theory
and practices.
Lambert, D. dan Cooper, M. (2000). “Issues Supply chain
management”.
Meindl, P. dan Chopra,
S. (2005). Supply chain management:
Strategy, Planning, And Operation.
Porter, M. (1998). Competitive Advantage: Creating and
Sustaining Superior.



