IMPLEMENTASI ISO 14001 PADA INDUSTRI
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang ISO 14001 yang saya dapat dari jurnal yang berjudul “STRATEGI PLANNING FOR THE PREPARATION OF ENVIRONMENTAL MANAGEMENT SYSTEM (ISO 14001) IMPLEMENTATION AT FOERSTRYCOMPANY (A CASE STUDY PT. INTERNATIONAL TIMBER COORPERATION INDONESIA )" Yang ditulis oleh Mohamad zahrul mutaqqin.
Perkembangan ekonomi yang mana termasuk pengaturan sumber daya alam Indonesia yang lebih baik.
Termasuk hutan alam, penerapan kebijakan penggunaan SDA, salah satu caranya adalah merawat ke arah masa depan untuk dapat diperbarui.
.Pemanfaatan sumber daya hutan dengan baik sesuai aspek kelestarian lingkungan. PT. ITCI sedang berusaha mendapatkan sertifikasi ISO 14001, dan melakukan analisis SWOT (Sterngth, Weakness, Opportunity, dan Treat). Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan PT. ITCI telah
siap menggunakan ISO 14001.
Contoh lain penerapan ISO 14001 sendiri terdapar juga pada jurnal yang berjudul “ Dimensi system manajement lingkungan yang dominan terhadap upaya produksi bersih perusahaan (studi kasus industri pengolahan karet remah) yang ditulis oleh Sawarni Hasibuan.
Karet alam (Hevea braziliensis) adalah komoditas tradisional sekaligus komoditas ekspor yang cukup penting perannya sebagi penghasil devisa negara dari sub sector perkebunan, sehingga banyak perusahaan yang memproduksi karet alam tersebut.
Environmental Management System (EMS) memberikan mekanisme untuk mencapai dan menunjukan kinerja lingkungan yang baik melalui pengendalian dampak lingkungan dari kegiatan produksi. Menurut standar ISO 14001, EMS mencakup 5 unsur yang diantaranya:
1. Kebijakan lingkungan.
2. Perencanaan.
3. Operasi.
4. Pemeriksaan dan tindakan koreksi.
5. Pengkajian manajemen.
Penerapan produksi bersih memang bersifat spesifik untuk berbagai jenis industri. Keberhasilan penerapan bersih diberbagai negara memperlihatkan bahwa faktor faktor yang menyangkut organisasi (dimensi system manajemen kerap kali lebih menentukan dibandingkan dengan faktor faktor teknis dilapangan).
Dari penelitian tersebut terdapat 8 perusahaan yang di survey, 7 swasta dan 1 perkebunan. Secara umum penanganan limbah padat yang dilakukan hanya terbatas pada landfill. Umumnya penanganan limbah padat yang dilakukan perusahaan karet remah hanya dengan penimbunan lahan (landfill). Pada 2 perusahaan permasalahan emisi tersebut coba disiasati dengan tidak melakukan predrying. Ada juga yang menyemprotkan minyak astiri atau pemanfaatan asap cair namun masih belum efisien. Terdapat perbedaan karakteristik dalam pengolahan limbah cair, ada yang menggunakan system biologis lumpur aktif sedangkan yang menggunakan system kimia atau kombinasi aerasi alami ini mununjukan dimensi system manajemen lingkungan industri pengolahan karet alam masih lemah.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar