Riviewew dan kajian jurnal yang bejudul “Bio
Energi Berbasis Jagung dan Pemanfaatan Limbahnya”
Karya Teguh Wikan
Widodo, A. Asari, Ana N.dan Elita, R. (Balai Besar Pengembangan Mekanisasi
Pertanian Serpong Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian)
1.
Latar Belakang.
Tujuan
pembuatan jurnal dan adanya penelitian akan hal tersebut adalah karena adanya
kenaikan harga bahan bakar minyak dan menipisnya cadangan sumber minyak bumi di
Indonesia dapat menjadi penghambat pembangunan pertanian berkelanjutan. Kami
pilih limbah jagung sebagai energi alternatife karena jagung dan limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bioenergi dengan
teknologi konversi energi yang ada saat ini, di antaranya adalah
1. Sebagai
bahan bakar tungku untuk proses pengeringan atau pemanasan.
2.
Sebagai bahan bakar padat untuk proses pirolisis dan gasifikasi.
3.
Sebagai bahan baku pembuatan ethanol.
4. Sebagai
bahan baku potential pembuatan biodiesel.
2. Methode
Ada beberapa methode yang bisa digunakan dalam memanfaatkan jagung tersebut,
Semua bergantung pada bahan bakar apa yang ingin kita hasilkan dari komponen
tumbuhan jagung (Zea Mays).
1.
Bahan Bakar Padat.
Kita harus membentuk tongkol jagung dalam
bentuk arang “Carbonization”
a.
Proses
pembakaran pada suhu berkisar 150-600oC dengan udara yang sangat
terbatas.
b.
Karbonisasi
disesuaikan pada tekanan 1,2 Mpa.
c.
Setelah
2 menit pemanasan dan aliran udara pada autoclave dihentikan setelah 18 menit.
d.
Produktivitas
fixed-carbon akan mencapai
100%.
Pemanfaatan panas langsung yang paling
banyak dilakukan orang adalah untuk memasak atau pengeringan dengan menggunakan
tungku. Jika panas yang dihasilkan dipergunakan untuk memanaskan ketel uap maka
dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga mekanis atau listrik.
2. Bahan Padat Untuk Proses Pirolisa dan Gasifikasi.
Pirolisa merupakan
proses pemanfaatan limbah dengan cara pembakaran tidak sempurna pada suhu yang
relatif rendah yaitu sekitar 400-500oC. Proses pirolisa menghasilkan
gas dengan nilai kalor 4000 kJ/Nm3 gas, minyak cair (bio-oil) dengan nilai
kalor 16000-17000
kJ/kg dan arang. Gas yang terbentuk dapat dipergunakan untuk menghasilkan udara
panas, menggerakkan motor atau membangkitkan tenaga listrik.
Pada
proses gasifikasi, terjadi
pembakaran tidak sempurna pada suhu yang relatif tinggi, yaitu sekitar 900-1200oC. Proses
gasifikasi menghasilkan produk tunggal berupa gas dengan nilai kalori 4000-5000 kJ/Nm3. Gas yang
diperoleh dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan udara panas, menggerakkan motor
dan dapat digunakan sebagai pembangkit listrik. Konversi energi dengan cara
gasifikasi efisiensi panasnya
mencapai 50-70%.
Proses pembentukan gas pada system ini merupakan kelanjutan dari proses
pirolisa.
3. Ethanol dan 2,3 butanadiol.
Ethanol dan 2,3 butanadiol merupakan
bahan bakar alkohol yang berasal dari proses fermentasi gula atau molase.
Proses pembuatan Ethanol bisa
digambarkan sebagai berikut:
a.
Proses
substract atau molase
b.
Limbah
yang menganndung selulosa dan tepung di proses pretreatment.
c.
Kemudian
hasil pretreatment digabungkan dengan hasil substract/molase.
d.
Karbohidrat
yang dihasilkan di lakukukan proses khamir atau ragi.
e.
Kemudian
akan menghasilka suatu Ethanol atau alkohol.
4. Biodiesel
Secara
umum ada empat cara pemanfaatan dan pembuatan biodiesel, yaitu: (1) minyak
digunakan langsung atau sebagai bahan campuran, (2) microemulsi, (3) pirolisa,
(4) transesterifikasi (Ma & Hanna,1999). Proses yang paling umum dilakukan
adalah proses tranesterifikasi. Pada proses transesterfikasi, reaksi bertahap dari
triglycerida menjadi diglycerida, kemudian menjadi monoglycerida dan monoglycerida
diubah menjadi fatty acid esters. Penggunaan minyak atau minyak bekas (used
oil) secara langsung dapat dilakukan, namun dapat mengkontaminasi oli pelumas
dan dapat mengakibatkan tingginya karbon deposit yang disebabkan oleh viskositas
bahan yang cukup tinggi.
5. Pemanfaatan limbah jagung dan pengembangan produk samping
Jagung memiliki banyak kegunaan, diantaranya
yaitu: daun sebagai hijauan pakan ruminansia, biji jagung sebagai sumber energi
ternak unggas, sedangkan limbah jagung lainnya seperti kulit jagung, bonggol
jagung dan dedak jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pemanfaatan
tongkol jagung untuk pakan ternak melalui proses fermentasi dengan cara
mencampur tongkol jagung dengan bakteri trikoderma dan gula pasir
(Prasetyo, 2002; Ditjen. Peternakan, 2003).
3.
Hasil
Berdasarkan hasil penelitian dan
analisis kimia tongkol jagung (Lachke, 2002) menunjukan bahwa :
1.
Kadar
air 13,9
2.
Abu
1,17
3.
C
43,42
4.
H
6,32
5.
O
46,69
6.
N
0,67
7.
S
0,07
8.
Abu
2,30
9.
HHV
(MJ/kg) 14,7-18,9
Kandungan energi
tongkol jagung: 3.500–4.500 kkal/ kg atau 14.7-18.9 MJ/kg, suhu
pembakaran dapat mencapai 205oC.
4.
Kesimpulan
Dari
data yang ada kami menyimpulkan bahwa:
Ø Tanaman jagung (Zea
mays) tidak hanya sebagai sumber pangan yang penting bagi kehidupan tapi
juga sebagai sumber energi terbarukan dengan teknologi konversi energi yang ada
saat ini, di antaranya adalah (1) sebagai bahan bakar tungku untuk proses
pengeringan atau pemanasan, (2) sebagai bahan bakar padat untuk proses
pirolisis dan gasifikasi, (3) sebagai bahan baku pembuatan ethanol dan (4)
sebagai bahan baku potential pembuatan biodiesel.
Ø Pemanfaatan
limbah jagung dan turunan produk berbahan baku jagung sebagai sumber energi
terbarukan cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia, namun penggunaan
secara optimal perlu dikaji agar diperoleh keuntungan yang maksimal.
5.
Saran
Saran saya untuk jurnal tersebut,
,menurut saya pribadi untuk data atau hasil analisis yang ada masih kurang
maksimal karena si pembaca masih kurang mengerti satuan yang tertera.
Harapannya jurnal tersebut tidak
hanya sebagai media saja tapi tentang pemanfaatan bio energi jagung dan
limbahnya bisa diterapkan karena kondisi stok bahan bakar yang ada dibumi kita
mungkin bisa dibilang krisis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar